Friday, January 4, 2008

My Logo

Bagi anda yang menyukai musik rock, khususnya prog rock, tentu tidak asing dengan gambar/logo disamping ini... ya, itu logo DREAM THEATER. Logo yang sangat indah aku rasa, siapapun (yang bergerak dibidang prog rock) yang melihat logo itu pasti langsung terpikir DT, memang begitulah seharusnya logo. Cocok dengan definisinya, yaitu: Logo merupakan suatu bentuk gambar atau sekedar sketsa dengan arti tertentu, dan mewakili suatu arti dari perusahaan, daerah, perkumpulan, produk, negara, dan hal-hal lainnya yang dianggap membutuhkan hal yang singkat dan mudah diingat sebagai ganti dari nama sebenarnya. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Logo ).

Hampir semua band rock memiliki logo yang khas baik berupa gambar/simbol maupun bentuk tulisan. Misalnya Rush dengan gambar orang dan bintang, Stones dengan gambar lidahnya, Def Leppard dengan tulisan yang lancip-lancip seolah-olah penggalan dari bendera Inggris Raya (UK) demikian juga Iron Maiden dengan huruf-huruf yang sangat iron maiden dan setahuku gak pernah berubah sejak album pertama, demikian halnya dengan KISS, tetap konsisten dengan bentuk tulisan seperti itu. Dan masih banyak lagi yang lain.

Led Zeppelin, selain memiliki logo tulisan khas (yang paling populer adalah tulisan nama band ini yang ada di kover album Houses of The Holy dan diulang di kover The Song Remains The Same) setiap anggotanya juga memiliki logo masing-masing, seperti yang nongol di kover album ke-4.
Ketika masih sekolah di SMP dan SMA buku-buku tulisku dihalaman paling belakang selalu penuh dengan gambar-gambar logo maupun tulisan-tulisan khas band-band rock yang sedang aku sukai saat itu, biasanya aku bikin corat-coret ketika bosen mendengarkan ceramah guru. Ketika kuliah agak lain medianya, karena jarang pakai buku tulis maka media yang dipakai adalah kertas foto copy-an bahan kuliah, alasannya masih tetap sama....

Aku sangat tertarik dengan per-logo-an ini, pernah juga iseng bikin logo pribadi yang bentuknya seperti gambar di samping ini. Logo sederhana terdiri dari lingkaran dan huruf T berbaring di tengahnya, yang kalo dilihat bagian dalamnya nampak seperti huruf C, inisial namaku... anda melihat image yang sama?. Sudah lupa kapan aku bikin ini, mungkin sekitar tahun 1988 atau sedikit sebelumnya. Yang pasti kaset lisensian pertamaku yang dibeli akhir 1988 sudah dibubuhi logo ini diikuti tanggal beli. Kemudian menjadi kebiasaan membubuhi logo plus tanggal beli pada kaset, CD atau buku yang aku beli. Kecuali beberapa tahun terakhir, khusus untuk CD gak pernah lagi aku kasih logo dan tanggal, soalnya istri sering protes karena aku terlalu boros dalam hal belanja CD, jadi biar gak katahuan kalo CD-CD itu baru dibeli... he..he..he.. ini demi keselamatan boss... Kalo kebetulan anda pernah beli kaset/CD bekas di Jatinegara atau Jalan Surabaya dan menemukan logo seperti itu, yakinlah bahwa kaset/CD itu pernah menjadi bagian dari koleksiku.

Thursday, January 3, 2008

Belajar Memancing

Inilah salah satu keuntungan tinggal di Makassar, tidak banyak waktu terbuang di jalan karena macet seperti saat masih tinggal di Bekasi (Jabotabek), jadi sore-sore atau pas hari libur masih bisa belajar memancing di laut.

Modalku hanya sebuah joran seharga seratus ribuan, yang cuman mampu mengangkat beban/ikan 3 - 5 kiloan, tapi kurasa itu sudah cukup untuk pemula, plus beberapa perlengkapan penunjang (beberapa jenis timah pemberat, selusin mata kail dll). Sampai hari ini sudah 3 kali mancing di laut, sekali di atas perahu (bener-bener di laut lepas lho...) dan 2 kali di dermaga di pulau Khayangan, lepas pantai Makassar. Jarangnya frekuensi memancing ini karena sebulan terakhir di Makassar lebih sering hujan.

Hasilnya... masih bisa dihitung dengan jari tangan kiri plus beberapa kali kehilangan mata kail dan timah karena talinya putus, nyangkut karang. Tapi hasil bukan persoalan bagiku, meskipun istri di rumah sering tertawa karenanya, dan bilang “mending ke pasar lelong (pasar ikan) aja, jelas dapet banyak...”, aku gak perduli, udah terlanjur senang mancing, nanti setelah musim cuaca buruk ini lewat kami akan kembali melaut.

Banyak hal yang bisa dinikmati dengan memancing... selain melatih kesabaran juga indahnya pemandangan dan suasana laut layak untuk dinikmati seharian... seharian?... ya, durasi memancing kami rata-rata dari pagi sampai menjelang sore dan pernah sekali dari sore sampai menjelang tengah malam.

Kelak kalau sudah cukup pengalaman akan aku tulis lebih banyak lagi tentang memancing.

Thursday, April 26, 2007

Kaset Asyik

Beberapa hari lalu di milis m-claro beberapa anggota memposting tentang indahnya suara kaset. Ya, aku sendiri sangat-sangat setuju dengan pendapat mereka. Suara dari kaset (analog) sesungguhnya lebih bagus, lebih indah dan nuansatik dari pada suara-suara digital saat ini.

Aku mengenal musik claro & art rock ketika masih jaman kaset di awal 80-an, saat masih SMP. Aku ingat kaset pertamaku adalah The Best Hard Rock produksi Billboard/Kings Record, tahun beli 1983 seharga Rp. 1.500,- di toko Duta Irama di kota Malang, lokasinya antara pertigaan jalan Oro-oro Dowo dan perempatan toko Rajabali-Kimia Farma (entah saat ini tempat-tempat/lokasi-lokasi itu masih ada atau sudah berubah nama dan bentuk, sudah lama aku gak menginjakan kaki di kota dingin itu). Kaset pertama ini sampai kini masih aku simpan, cuma gak pernah diputer lagi.

Periode antara 1988 (saat mulai era kaset lisensi) sampai 1997 merupakan saat paling banyak aku ngumpulin kaset, karena saat itu aku masih senang mencoba berbagai musik rock. Jadi selain ngumpulin album-album band claro & art rock yang sudah aku kenal, aku juga beli album-album band-band rock baru, macam nirvana, pearl jam…. dan di masa itu aku juga rajin ngubek-ubek pasar Jati Negara & Jalan Surabaya untuk ngumpulin kaset-kaset lama (era bajakan) yang belum sempat kebeli pada masanya.

Setelah tahun 1997 itu aku rasakan musik rock yang baru makin gak karu-karuan dan mboseni, makanya aku berhenti/sangat jarang beli kaset. Selain itu, yang aku amati, produksi kaset setelah 1997 itu gak sebanyak masa sebelumnya dan untuk album baru cenderung jauh terlambat dari release date resminya. Pelan-pelan aku sortir kaset-kasetku, banyak yang masuk kotak “for sale”. Sampai saat ini aku sudah melego 741 kaset, baik melalui milis, di Jatinegara atau di Jalan Surabaya. Yang tersisa sejumlah 377 judul kaset, 105 kaset diantaranya adalah koleksi lama, produksi jaman bajakan, sebagian besar labelnya Yess & Team Record.

Kadang-kadang merasa nyesal juga sudah terlanjur melepas begitu banyak koleksi kasetku, sebagian besar kaset itu sebenarnya aku suka, tetapi karena sudah punya CD-nya maka saat itu aku putuskan untuk dilepas. Kecuali untuk beberapa kaset yang aku sangat-sangat sayangi, meskipun sudah punya CD-nya kasetnya akan tetap aku simpan.

Sejak 6 bulan lalu aku mulai kembali ngumpulin kaset-kaset claro & art rock original, antara lain album-albumnya Yes dan ELP era awal. Berburunya di ebay.com. Sampai saat ini yang udah dapet antara lain: album studio Yes dari album pertama sampai Union, Led Zeppelin - The Song Remains the Same (2 kaset), Jethro Tull - 20 Years of Jethro Tull (boxset isi 3 kaset), ELP - Welcome Back…(2 kaset) & Love Beach. Setahuku sebagian besar kaset-kaset itu belum pernah diproduksi dan diedarkan di Indonesia. Bener-bener KLASIK ... Kaset Langka dan Asyik...

Untuk tahu daftar koleksiku, silahkan klik "koleksi musik" di sebelah ini.

Thursday, April 12, 2007

Pindah ke Makassar

Tanggal 11 April kemaren, secara resmi kami sekeluarga pindah ke Makassar, mening- galkan kota kami tercinta: Bekasi, entah untuk berapa lama. Sesungguhnya aku sendiri sudah sejak awal Maret lalu mutasi ke Makassar ini, hanya saja sebulan pertama masih bulok (bujangan lokal).

Pada malam terakhir kami di Bekasi, beberapa teman, sahabat dan kerabat kami berkunjung, “farewell party”, seperti nampak di gambar, kami beserta para sahabat/tetangga dan juga dengan “my guru” dalam blogging - Pak Herry.

Banyak kenangan selama tinggal di Bekasi yang untuk sementara harus kami tinggalkan: kenangan saat banjir, kenyamanan tinggal di Taman Kartini dll. Yang sangat berat bagi aku adalah meninggalkan sebagian besar koleksiku di sana, maklum tidak banyak barang yang bisa kami bawa.

Makassar, kota ini… not bad lah. Banyak hal di sini yang rasanya lebih enak dari pada di Jabotabek. Diantaranya: jalanan jarang ada macetnya, makanan terutama ikan dan durian jauh lebih murah. Sementara toko-toko seperti yang ada di Jakarta, misalnya Carrefour, Electronic Solution, Hypermart, bahkan J.co sudah ada di sini. Pendek kata, kalau kita berada di dalam mall di sini akan serasa berada di Jakarta dan gak akan sadar kalau ini di Makassar.

Sisi gak enaknya di sini adalah bahasa/dialek orang setempat yang seringkali bikin aku bingung. Dan yang kedua adalah angkutan kota (disini disebut pete-pete), angkot disini selalu dilengkapi speaker yang gede-gede tapi gak bagus suaranya jadi hanya berisiknya saja yang terasa. Musik yang sering disetel adalah musik-musik idola ABG jaman kini, entah itu samson, ungu, dewa, peterpan atau yang lain, yang terus terang gak cocok sama kuping jadulku ini. Selain itu angkot di sini sering banget ngetem dan sistemnya “job order” alias sering melenceng dari jalur resmi kalo ada penumpang yang minta diantar sampai masuk gang.

Thursday, March 22, 2007

Kenapa Art Rock?

Kalau anda membaca tulisan pada diskripsi halaman blog di atas mungkin jadi bertanya-tanya, kenapa art rock, bukan progressive rock? Ya, aku lebih nyaman menggunakan istilah art rock dari pada prog rock yang saat ini lebih popular, karena istilah art rock itulah yang aku kenal dan sudah lebih dari 20 tahun nempel di otakku, untuk menggambarkan musik-musik indah karya ELP, Yes, Genesis, Rush, Kansas, Marillion (era fish) ……. dan terus terang aku nggak PD kalau menyebut diri sebagai “penggemar progressive rock”, takut nggak bisa jawab kalo ada yang nanya tentang Porcupine Tree, Nightwish dan band-band prog baru lainnya yang aku nggak ngerti babar blassss…(tidak paham sama sekali).

Memang pada dasarnya sebagian besar musik yang aku dengar selama 20 tahun terakhir ya itu-itu saja: zeppelin, purple, sabbath dll (hard rock) dan elp, yes, genesis dll (art rock), tapi terus terang aku TIDAK PERNAH BOSAN …. tetap saja terdengar indah di telingaku, tetap mak nyusss…. (kalo istilah Pak Bondan). Ada juga band art rock baru (diatas 90-an) yang aku bisa nikmati dan suka, tapi tidak banyak, yaitu cuma: Dream Theater, Flower King dan Spockbeard.

Musik/album band-band art rock jadul itu juga nggak semuanya aku suka, biasanya hanya di era 70-80 an saja, sempat juga sih dalam satu masa aku memiliki koleksi lengkap album-album mereka, tapi akhirnya aku “pangkas” dan aku “lepas” di milis (m-claro dan prog-rock) atau di Udin Jalan Surabaya. Contohnya :

Genesis, tadinya aku sempat mengkoleksi dari From Genesis to Revelation (1969) sampai Calling All Stations (1997), tapi akhirnya aku sisakan dari Trespass (1970) sampai Genesis (1983), yang lain….. dilego.

Kansas, yang tersisa dari Kansas (1974) sampai Drastic Measures (1983) doang, meskipun banyak teman yang bilang Power (1986) bagus, tapi terus terang dari dulu aku nggak bisa menyukainya…. ya akhirnya dilego juga. Demikian juga Rush, yang tersisa Rush (1974) sampai A Show of Hands (1989), Yes: Yes (1969) sampai Talk (1994).

Tapi lain kasusnya dengan Marillion, sesungguhnya dari dulu sampai sekarang aku hanya suka era fish, tapi aku mengkoleksi juga 4 album pertama hogarth, karena di versi remastered 2 CD yang aku punya, disampingnya ada huruf M, A, R, I (untuk 4 album era fish). Setelah sekian lama terpampang "MARI" doang kok kayaknya aneh dan jelek banget jadi ya terpaksa aku beli juga 4 album pertama hogarth yang disampingnya ada huruf LL, I, O, N. Jadi sekarang pas dan enak dilihat MARILLION……

Saturday, March 3, 2007

Anakku, Yodha

Paramananda Wirasenayodha atau Yodha, lahir di Jakarta 6 April 2000, kami ketahui menyandang autis sejak 5 tahun lalu (ketika ia baru berusia 2 tahunan). Kondisi ini terus terang sangat berat bagi kami, karena menyita banyak "sumber daya", baik dana, tenaga, pikiran dan juga perasaan. Tapi bagaimanapun, aku merasa bahagia jika bersamanya... ya, aku sangat menyanyangi Yodha sebagaimana dia adanya.

Saat ini Yodha sudah mencapai banyak kemajuan, terutama dari sisi emosinya, ya setelah dia menjalani terapi selama 5 tahun terakhir ini.

Yodha bukan hanya seorang anak bagi aku, tapi lebih sebagai guru…. Dia telah mengajarkan banyak hal dalam diriku, ... untuk jiwaku, diantaranya:

Yodha memberi pelajaran untuk selalu mensyukuri setiap nikmat, setiap kemajuan, setiap langkah, meskipun itu kecil di mata kita selama ini. Yang aku masih ingat, beberapa bulan lalu Yodha sudah bisa minum pakai sedotan… ada perasaan bahagia dan syukur mengalir dalam hatiku saat itu, mungkin perasaan ini tidak akan muncul di hati orang tua yang anaknya normal-normal saja,

Kemudian, dia juga memberikan pemahaman kepadaku bahwa setiap orang berbeda, unik dan memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing, tak seorangpun sempurna,

Dan yang paling penting, dia memberikan pelajaran kepadaku tentang kesabaran... ini yang masih sulit bagiku, entah berapa kali aku gagal dalam ujian yang diberikannya...

"Nak, ayah sangat menyayangimu...."

Saturday, February 24, 2007

Banjir di Awal Februari 2007

Sengaja masalah ini menjadi tulisan pertama di blog ini, karena sesaat setelah banjir itulah aku jadi mengenal Blogging lebih dalam, tak lupa terima kasih banyak untuk Pak Herry yang telah menularkan ilmunya ini.

Sebetulnya wilayah perumahan kami ini sudah digenangi banjir pada hari kamis, awal Februari lalu, tapi yang ini gak seberapa, hanya menggenangi jalanan setinggi betis. Malamnya sudah surut, mungkin ini hanya pemanasan saja untuk menghadapi "the real show".

Pada hari sabtu pagi menjelang siang, air kembali menggenangi perumahan kami, tadinya cuma sebetis di jalanan. Seperti yang nampak pada gambar, Yodha dan Mbak Innaz main di jalan depan rumah ketika air masih "lucu-lucunya".

Menjelang magrib, air mulai memasuki rumah kami dan kondisi di jalanan air sudah setinggi dengkul. Makin malam makin tinggi dan berlangsung terus sampai kondisi tertinggi pada minggu siang, yaitu setinggi perut di dalam rumah. Terpaksa kami mengungsi di lantai 2 yang tidak seberapa luas. Banjir mulai surut senin dini hari.
Ini adalah pengalaman kedua kami kebanjiran, sebelumnya tahun 2002 tetapi tidak setinggi ini, saat itu air masuk rumah hanya setinggi betisku saja.

Beruntung, kami relatif tidak mengalami kerugian yang material hanya beberapa lemari kayu yang sudah "membusuk" yang terpaksa dibuang. Dan yang terpenting semua koleksiku (CD, kaset, PH dan buku) aman sejahtera. Tapi yang justru sangat melelahkan dan menyita tenaga, biaya dan pikiran adalah proses "pemberesan" rumah pasca banjir ini... bahkan sampai dengan saat ini aku tulis rumah kami masih belum 100% kembali ke kondisi semula.