Thursday, April 12, 2007

Pindah ke Makassar

Tanggal 11 April kemaren, secara resmi kami sekeluarga pindah ke Makassar, mening- galkan kota kami tercinta: Bekasi, entah untuk berapa lama. Sesungguhnya aku sendiri sudah sejak awal Maret lalu mutasi ke Makassar ini, hanya saja sebulan pertama masih bulok (bujangan lokal).

Pada malam terakhir kami di Bekasi, beberapa teman, sahabat dan kerabat kami berkunjung, “farewell party”, seperti nampak di gambar, kami beserta para sahabat/tetangga dan juga dengan “my guru” dalam blogging - Pak Herry.

Banyak kenangan selama tinggal di Bekasi yang untuk sementara harus kami tinggalkan: kenangan saat banjir, kenyamanan tinggal di Taman Kartini dll. Yang sangat berat bagi aku adalah meninggalkan sebagian besar koleksiku di sana, maklum tidak banyak barang yang bisa kami bawa.

Makassar, kota ini… not bad lah. Banyak hal di sini yang rasanya lebih enak dari pada di Jabotabek. Diantaranya: jalanan jarang ada macetnya, makanan terutama ikan dan durian jauh lebih murah. Sementara toko-toko seperti yang ada di Jakarta, misalnya Carrefour, Electronic Solution, Hypermart, bahkan J.co sudah ada di sini. Pendek kata, kalau kita berada di dalam mall di sini akan serasa berada di Jakarta dan gak akan sadar kalau ini di Makassar.

Sisi gak enaknya di sini adalah bahasa/dialek orang setempat yang seringkali bikin aku bingung. Dan yang kedua adalah angkutan kota (disini disebut pete-pete), angkot disini selalu dilengkapi speaker yang gede-gede tapi gak bagus suaranya jadi hanya berisiknya saja yang terasa. Musik yang sering disetel adalah musik-musik idola ABG jaman kini, entah itu samson, ungu, dewa, peterpan atau yang lain, yang terus terang gak cocok sama kuping jadulku ini. Selain itu angkot di sini sering banget ngetem dan sistemnya “job order” alias sering melenceng dari jalur resmi kalo ada penumpang yang minta diantar sampai masuk gang.

2 comments:

chresno said...

ikatan cowok ganteng nih....

Anonymous said...

wah angkotnya boleh juga ya....?